JAKARTA – Di tengah tantangan berat industri sawit, Asian Agri dan Apical Group membuka ruang dialog dengan media di Jakarta, Kamis (5 Maret 2026). Kedua perusahaan menekankan pentingnya merawat narasi yang berimbang, seraya menegaskan kembali komitmen pada tata kelola berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Director of Corporate Affairs & Sustainability Asian Agri, Johan Kurniawan, menjelaskan pentingnya nilai kontribusi dan kebermanfaatan dalam pengelolaan industri sawit.
Menurutnya, momentum Ramadan mengingatkan pentingnya konsistensi dalam melakukan hal yang benar.
“Ramadan bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga. Ramadan melatih kita menjadi pribadi yang lebih bermanfaat. Ia mengajarkan tentang integritas, melakukan yang benar bahkan ketika tidak ada yang melihat,” ujarnya.
Johan menilai nilai kebermanfaatan tersebut sangat dekat dengan karakter industri kelapa sawit.
“Kelapa sawit adalah komoditas yang unik. Hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Dari minyaknya yang menjadi bahan pangan dan energi hingga produk sampingannya yang dimanfaatkan kembali sebagai pupuk atau sumber energi. Inilah semangat circular economy, tidak ada yang terbuang, semua kembali memberi manfaat,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa manfaat besar tersebut hanya dapat dicapai melalui pengelolaan yang baik, tata kelola yang kuat, dan komitmen jangka panjang.
Di sektor hulu, Asian Agri menerapkan praktik budidaya yang bertanggung jawab, mulai dari pemilihan bibit unggul hingga program peremajaan tanaman atau replanting.
“Program replanting dilakukan untuk menjaga produktivitas tanpa membuka lahan baru. Kemitraan dengan petani juga menjadi fondasi penting karena keberlanjutan tidak mungkin dibangun sendirian,” ujarnya.
Di sektor hilir, Apical melanjutkan pengelolaan tersebut melalui rantai pasok yang terintegrasi dan inovasi produk bernilai tambah.
“Sawit hari ini bukan hanya minyak goreng. Ia hadir dalam bentuk oleochemical, functional fats, hingga energi terbarukan seperti Sustainable Aviation Fuel. Manfaatnya menjangkau luas dari kebutuhan rumah tangga hingga solusi transisi energi,” katanya
Ia menggambarkan luasnya pemanfaatan sawit dengan istilah sederhana.“Benar-benar dari dapur sampai avtur,” ujarnya.
Sementara itu, Head of Corporate Communications Apical dan Asian Agri, Prama Yudha Amdan, mengatakan beberapa bulan terakhir menjadi periode yang tidak mudah bagi industri sawit.
Berbagai isu, baik di dalam maupun luar negeri, memberi tekanan terhadap persepsi publik mengenai komoditas tersebut.
“Enam bulan terakhir ini industri sawit kayaknya apes amat. Kanan-kiri kita sama-sama dihajar oleh berbagai isu. Bahkan sekarang industri sawit sudah menjadi olok-olok Gen Z. Jadi kalau sekarang saya juga melihat ada kaos bertuliskan ‘Es Kelapa Sawit’. Kalau ada apa-apa, ‘nyawit lo ya’,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Yudha juga memperkenalkan kembali struktur bisnis perusahaan yang berada di bawah RGE Palm Group. Ia menjelaskan bahwa grup tersebut terdiri atas dua perusahaan utama yang menjalankan rantai bisnis sawit secara terintegrasi.
“RGE Palm Group itu terdiri dari dua grup perusahaan. Yang pertama Asian Agri yang bergerak di plantation, dan yang kedua Apical yang menjadi prosesor dari CPO yang diproduksi Asian Agri. Jadi secara grup kita adalah produsen terintegrasi dari plantation sampai produk akhir,” katanya.
Ia menilai hubungan dengan media menjadi bagian penting untuk menghadirkan pemberitaan yang berimbang tentang industri sawit. Menurutnya, pelaku usaha tidak bisa membangun narasi sendirian.
“Teman-teman wartawan sawit dan wartawan nasional tahu betul bahwa industri sawit sangat krusial dalam kehidupan kita sehari-hari. Dari kita bangun tidur, mandi, makan, sampai tidur lagi, ada sentuhan sawit,” ujarnya.
Karena itu, Yudha berharap kerja sama antara perusahaan dan media dapat terus terjalin dengan baik.
“Membangun narasi terhadap sektor industri ini bukan tanggung jawab individual perusahaan. Kami sangat bergantung kepada rekan-rekan media yang juga menyuarakan berita-berita baik, berita positif, ataupun berita yang setidaknya berimbang terhadap keberadaan industri kita,” katanya.
Program sosial selama Ramadan
Selain kegiatan bisnis, kedua perusahaan juga menjalankan program sosial selama Ramadan. Asian Agri menggelar bazar minyak goreng bagi masyarakat di wilayah operasional perusahaan di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi. Program ini rutin digelar menjelang Idul Fitri agar masyarakat dapat memperoleh minyak goreng dengan harga terjangkau.
Sementara itu, Apical juga berpartisipasi dalam program bazar Minyakita bersama Kementerian Perindustrian.
“Dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, sekitar 600 karton minyak goreng merek Minyakita dan Camar disalurkan kepada masyarakat,” kata Johan.
Menurut dia, inisiatif sederhana seperti itu menjadi salah satu cara perusahaan memastikan manfaat industri sawit dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia juga mengibaratkan Ramadan sebagai momentum pembaruan, sebagaimana praktik replanting dalam perkebunan.
“Jika dalam perkebunan kita mengenal replanting untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik, maka Ramadan adalah replanting spiritual kita. Membersihkan hati, memperbaiki niat, dan menanam kembali komitmen untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.
Melalui kegiatan buka puasa bersama tersebut, Asian Agri dan Apical berharap dapat memperkuat kemitraan dengan media serta terus mendorong praktik industri sawit yang berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat. **













