DUMAI, 2 September 2026* — Pertamina Patra Niaga melalui Fungsi Project R&P Sumatera menggelar Pertamina Goes to Campus (GTC) – Project Sumatera bertajuk “Generasi Muda yang Berintegritas dan Berwawasan Energi melalui Project Sustainability & Community Development”. Kegiatan ini ditujukan untuk membangun kesadaran dikalangan generasi muda terhadap isu energi, lingkungan, keberlanjutan, serta pengembangan masyarakat. Rangkaian kegiatan tersebut resmi dilaksanakan di Universitas Dumai Jumat (21/8).

Kegiatan Pertamina Goes to Campus tidak sekadar menjadi wadah untuk mendorong kesadaran mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa untuk melek terhadap perkembangan energi sekaligus kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan, melainkan juga menjadi momentum strategis dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah daerah.

General Manager Project R&P Sumatera PT Pertamina Patra Niaga, Muhammad Rahmad, S.T., IPM, ASEAN Eng., turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama Rektor Universitas Dumai Dr. Ir. Muhardi, S.Kom., M.Kom., IPM, serta perwakilan Pemerintah Kota Dumai, yaitu Andry Martin, S.E., M.Si. dari Dinas Tenaga Kerja Kota Dumai, Edi Indra, S.IP., Kasubag TU Dinas Lingkungan Hidup Kota Dumai, dan M. Ali Muhajirin, S.Sos., M.I.P., Pengawas Pendamping Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Dumai.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak mahasiswa agar tidak hanya memiliki pengetahuan akademik yang berhenti diruang kelas saja, tetapi juga mampu memahami berbagai tantangan sektor energi dan lingkungan serta memiliki kepedulian untuk berkontribusi dalam menciptakan solusi yang inovatif dan berkelanjutan,” ujar GM Project R&P Sumatera Rahmad.

Rektor Universitas Dumai, Dr. Ir. Muhardi, S.Kom., M.Kom., IPM, menyampaikan bahwa kegiatan Pertamina Goes to Campus memiliki nilai strategis bagi mahasiswa karena mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman dan praktik langsung dari dunia industri.

Kolaborasi seperti ini diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan gagasan, serta memahami kebutuhan industri dan masyarakat secara lebih nyata. “Mahasiswa merupakan generasi yang akan menentukan arah pembangunan Indonesia di masa depan. Karena itu, mereka perlu memiliki kompetensi, integritas, kepedulian terhadap lingkungan, serta wawasan tentang energi agar mampu menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks,” ujar Muhardi.

Selain sesi edukasi, rangkaian kegiatan Pertamina Goes to Campus (GTC) – Project Sumatera di Universitas Dumai juga diisi dengan berbagai agenda edukatif lainnya serta penyerahan cinderamata sebagai bentuk apresiasi sekaligus simbol penguatan sinergi antara PT Pertamina Patra Niaga dan Universitas Dumai.

Selain menjadi upaya edukasi, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi awal dari penguatan kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah dalam bidang pendidikan, energi, lingkungan, sustainability, dan community development.

Melalui Pertamina Goes to Campus, Pertamina Patra Niaga Fungsi Project R&P berkomitmen untuk terus mendorong lahirnya generasi muda yang berintegritas, unggul, adaptif, inovatif, serta memiliki wawasan energi dan kepedulian terhadap keberlanjutan, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah maupun ketahanan energi nasional.**

DUMAI, 3 September 2026 — Dengan ini disampaikan bahwa benar adanya suara letupan akibat adanya kendala pada salah satu unit operasional PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai. 

Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai mengatakan suara yang terdengar merupakan suara release tekanan ke api obor (flare) saat proses start up. 

“Kami menyampaikan bahwa saat ini terdapat kendala operasional pada salah satu unit proses di area kilang yang menyebabkan timbulnya suara bising dan api obor membesar seperti di media sosial. Kondisi ini merupakan bagian dari proses produksi kilang dan sudah ditangani sesuai prosedur. Perusahaan memastikan kilang saat ini dalam kondisi aman dan kondusif,” ujar Muhammad Rum. 

“Kami memahami ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak. Kami tegaskan bahwa saat ini kondisi telah ditangani dengan baik dan seluruh fasilitas dalam kondisi aman,” tutup Tengku Rum. Perusahaan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir.**

KEPRI - Penyelundupan 800 kilogram ketamin di perairan Anambas, Kepulauan Riau (Kepri), digagalkan aparat gabungan Bareskrim Polri, BNN, Bea Cukai, dan Polda Kepri. Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan 1 orang WN Taiwan.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso menjelaskan pengungkapan ini merupakan pengembangan terhadap kapal MV King Sun yang membawa 1,3 ton ketamin di Kepulauan Kepri beberapa waktu lalu. Bareskrim Polri dan BNN RI selaras melakukan penyelidikan mendalam dan menemukan dugaan adanya kapal lain dengan pola serupa yang diduga membawa narkoba.

Kapal tersebut teridentifikasi bernama Fuchangxing 1, sebuah kapal general cargo berbendera Comoros dengan nomor IMO 8921705. Melalui pemantauan Sistem Identifikasi Otomatis atau AIS, didapati profil dan jejak pergerakan kapal yang dinilai mencurigakan.

Hasil pemantauan tersebut ditemukan pergerakan anomali kapal Fuchangxing 1, yaitu pada tanggal 13 Agustus 2026 kapal Fuchangxing 1 mematikan sistem AIS dan tanggal 19 Agustus 2026 teridentifikasi melakukan kegiatan ship-to-ship dengan kapal MT Ashley berbendera Mongolia di wilayah perairan Vietnam.

"Berdasarkan temuan tersebut, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, BNN RI, dan Ditjen Bea Cukai melaksanakan rapat koordinasi untuk menyusun rencana operasi gabungan guna mengintersepsi kedua kapal tersebut," ujar Brigjen Eko Hadi dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).

Selanjutnya, pada Jumat (21/8/2026) sekitar pukul 21.30 WIB, Satgas Operasi Gabungan yang terdiri atas unsur BNN RI, Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Ditjen Bea dan Cukai, dan Ditresnarkoba Polda Kepri on board menggunakan kapal BC 30005 dari Dermaga 99 menuju titik pencegatan untuk melakukan pengejaran kapal Fuchangxing 1.

10 Kru Kapal Diamankan

Satgas gabungan berhasil mencegat Kapal Fuchangxing 1 pada keesokan harinya, tepatnya Sabtu (22/8) di Perairan Anambas. Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan 10 orang awak kapal.

"Sepuluh awak kapal berhasil kami amankan, yang terdiri atas 9 (sembilan) orang warga negara Myanmar dan 1 (satu) orang warga negara Taiwan. Kapal Fuchangxing 1 beserta awak kapal dikawal menuju Dermaga Bea dan Cukai Batam," imbuhnya.

Keesokan harinya, Senin (24/8), kapal Fuchangxing 1 yang dikawal kapal BC 30005 tiba di perairan utara Lagoi dan dilakukan penebalan pengawalan oleh kapal BC 20009 dan 2 (dua) unit kapal patroli cepat Ditpolairud Polda Kepri menuju Dermaga Bea & Cukai Batam. Setelah dilakukan interogasi terhadap awak kapal dan pemeriksaan alat komunikasi serta penggeledahan seluruh kompartemen kapal Fuchangxing 1, petugas menemukan 800 kilogram ketamin yang disembunyikan di steering room.

"Satgas Operasi Gabungan berhasil menemukan 40 buah karung berisikan 800 bungkus ukuran 1 kg yang disembunyikan di steering room bagian buritan kapal. Setelah dilakukan identifikasi dan pengujian laboratorium terhadap 800 bungkus tersebut, hasilnya menunjukkan positif mengandung ketamin HCl," jelasnya.

Brigjen Eko Hadi mengatakan, selain 800 kilogram ketamin, petugas juga mengamankan barang bukti berupa 1 unit kapal Fuchangxing 1, 3 alat komunikasi, serta 3 kelengkapan kapal lainnya.

"Selain melakukan penyitaan barang bukti, penyidik Dittipidnarkoba Bareskrim Polri juga menetapkan 1 orang tersangka, yakni Saudara WLC (30), WN Taiwan, yang berperan sebagai manajer kapal Fuchangxing 1 sekaligus pengendali pengiriman barang bukti 800 kg ketamin HCl," tuturnya.

Sementara sembilan orang kru kapal lainnya diperiksa sebagai saksi. Sembilan saksi tersebut diserahkan kepada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Batam untuk penyelidikan lebih lanjut terkait UU Pelayaran.

"Satgas Operasi Gabungan telah menyerahkan para saksi kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil pada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Batam guna melanjutkan penyelidikan dan penyidikan terkait dugaan pelanggaran di bidang pelayaran sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran," lanjutnya.

Pengejaran Kapal MT Ashley

Di sisi lain, petugas gabungan juga melakukan pengejaran terhadap Kapal MT Ashley dengan menggunakan kapal BC 30002, pada Minggu (23/8) sore. Setelah melakukan analisis pergerakan kapal, Satgas Operasi Gabungan berhasil melakukan intersepsi dan onboard pada kapal MT Ashley di wilayah perairan Natuna, serta mengamankan 6 orang awak kapal yang merupakan warga negara Indonesia (WNI).

Kapal MT Ashley yang dikawal oleh kapal BC 30002 tiba di perairan Longsa dan mendapatkan penebalan pengawalan oleh KRI Pulau Rangsang-727 dan KRI Todak-631 dari Koarmada I TNI AL, pada Rabu (26/8). Sesaat kemudian, kapal BC 20011, 2 unit kapal cepat BC 1403 dan BC 10022, serta 2 unit kapal patroli cepat Ditpolairud Polda Kepri turut menambah perkuatan pengawalan kapal MT Ashley hingga ke Dermaga Bea & Cukai Batam.

Setibanya di Dermaga Bea & Cukai Batam, pemeriksaan dan penggeledahan dilakukan secara menyeluruh terhadap kompartemen kapal MT Ashley, namun Satgas Operasi Gabungan belum menemukan barang bukti narkoba dari kapal tersebut.**


sumber: detikcom

INHIL - Seorang nelayan Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, harus dilarikan ke rumah sakit setelah selamat dari terkaman buaya berukuran besar saat mencari kepiting di tengah Sungai Selat Bantal Besar, Desa Selat Nama. 

Peristiwa bermula ketika korban hendak mengambil parangnya yang terjatuh ke dalam sungai, saat sedang cari kepiting pada jam 01.00 Wib dini hari, Ahad (30/8/2026). 

Namun, saat hendak naik kembali ke atas pompong, kaki kanannya tiba-tiba disambar oleh buaya yang diperkirakan memiliki panjang mencapai empat sampai lima meter.

Meski sempat digigit berkali-kali, korban dengan keberanian luar biasa melakukan perlawanan dan berhasil menyelamatkan diri dengan memanjat serta berpegangan pada sebuah pohon di dekat lokasi kejadian.

Korban harus bertahan selama enam jam di atas pohon tersebut hingga pagi sambil menunggu air surut dan satwa liar itu pergi menjauh.

Merasa situasi aman, ia naik kembali ke pompongnya, membalut 12 luka gigitan di kakinya menggunakan seadanya, lalu bergegas pulang ke rumah.

Saat ini, korban Arbain yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada Tembilahan untuk mendapatkan perawatan intensif atas luka-luka serius yang dideritanya.

"Waktu mau naik ke pompong, kaki saya tiba-tiba diterkam. Saya sempat melawan dan bertahan di atas pohon selama enam jam sampai buayanya pergi," ujar Arbain, korban serangan buaya.

Menanggapi insiden yang terus berulang ini, Camat Tanah Merah Mulyadi mengatakan bahwa pemerintah setempat telah mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat pesisir dan para nelayan agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di perairan sungai. 

"Kejadian ini merupakan yang ketiga kalinya terjadi dalam bulan ini di Tanah Merah. Kami mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sungai, terutama pada malam hingga pagi hari, untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari hal-hal yang memicu serangan satwa liar," tegasnya.**

ROKAN HILIR - Polres Rokan Hilir mengungkap 48 kasus narkotika sepanjang periode 1 Juli hingga 30 Agustus 2026. Dalam pengungkapan tersebut, polisi mengamankan 66 tersangka dan menyita sejumlah barang bukti narkoba.

"Dari 66 tersangka yang diamankan, sebanyak 52 orang merupakan laki-laki dewasa, 13 perempuan dewasa, dan satu orang anak perempuan," kata Kapolres Rohil AKBP Aldi Alfa Faroqi, dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).

Selain mengamankan para tersangka, polisi turut menyita sejumlah barang bukti narkotika. Barang bukti tersebut terdiri dari 399,2 gram sabu, 4,9 gram ganja, dan 7 butir ekstasi.

Kapolres menyampaikan dari total pengungkapan tersebut, Satresnarkoba Polres Rohil menangani 21 kasus dengan 33 tersangka. Sementara kasus lainnya berhasil diungkap oleh jajaran polsek dan Satpolair.

AKBP Aldi mengatakan pengungkapan ini merupakan komitmen kepolisian dalam memberantas narkoba. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan ruang bagi pelaku maupun jaringan peredaran narkotika di wilayah hukum Polres Rokan Hilir.

"Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku maupun jaringan peredaran narkotika. Kami akan terus melakukan penindakan sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegas Aldi.

Ia juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif membantu kepolisian dalam memberantas peredaran narkoba. Menurutnya, informasi dari masyarakat sangat penting untuk membantu kepolisian mengungkap penyalahgunaan maupun jaringan peredaran narkotika.

"Mari bersama-sama memerangi narkoba. Peran masyarakat sangat penting dalam memutus mata rantai peredaran narkotika di Kabupaten Rokan Hilir," pungkasnya.

Baca artikel detiknews, "Polres Rohil Tangkap 66 Tersangka Narkoba, Sita Ganja hingga Sabu" selengkapnya **


sumber: detikcom

JAKARTA -- Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merotasi sejumlah perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen) Polri. Termasuk, jabatan empat Wakapolda, mulai dari Riau hingga Maluku Utara (Malut).

Mutasi itu tertuang dalam surat telegram Nomor: ST/1877/VIII/KEP./2026, yang ditandatangani oleh Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo atas nama Kapolri tanggal 30 Agustus 2026.

Dalam mutasi itu, jabatan Wakapolda Riau yang dijabat Brigjen Hengki Haryadi, kini diduduki oleh Brigjen Simson Zet Ringu yang sebelumnya menjabat Wakapolda Gorontalo.

Jabatan Wakapolda Gorontalo yang ditinggalkan Simson kemudian dipercayakan kepada Kombes Dedy Suhartono. Dedy sebelumnya menjabat sebagai Kasubdit STNK Korlantas Polri.

Kemudian, jabatan Wakapolda Maluku Utara yang sebelumnya diisi oleh Brigjen Stephen Maleachi Napiun, kini diisi oleh Brigjen Slamet Hadiyadi.

Selanjutnya, jabatan Wakapolda Sulawesi Utara kini dijabat oleh Brigjen Susetio Cahyadi yang menggantikan Brigjen Awi Setiyono. Awi dimutasi menjadi Widyaiswara Kepolisian Utama TK. I Sespim Lemdiklat Polri.

Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir mengatakan mutasi dan rotasi merupakan bagian dari proses pembinaan organisasi dan karier personel Polri. Penempatan personel pada jabatan baru dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi serta kompetensi dan pengalaman yang dimiliki.

"Mutasi dan rotasi merupakan bagian dari dinamika organisasi dan pembinaan karier personel. Penempatan pada jabatan baru tentunya telah disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, kompetensi, serta tantangan tugas yang dihadapi," kata Isir dalam keterangannya, Senin (31/8).

Isir juga menyampaikan seluruh pejabat yang mendapatkan amanah baru diharapkan dapat segera menyesuaikan diri dan menjalankan tugas secara optimal.

"Setiap jabatan merupakan amanah dan tanggung jawab. Kami berharap para pejabat yang mendapat penugasan baru dapat segera beradaptasi, melanjutkan program yang sudah berjalan, serta meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat," tutur dia.**


sumber: CNN Indonesia