JAKARTA (CNC) - Perjalanan Berry Hardisakha sebagai pengusaha digital dimulai dari Pekanbaru, Riau. Kini, perjalanan itu membawanya ke Bangkok, Thailand, untuk menerima kunci properti pertamanya di luar negeri, sebuah unit di kondominium Culture Thonglor yang ia menangkan sebagai SVO World Champion 2026.

Gelar tersebut diraih Berry setelah melewati kompetisi internasional selama enam bulan yang diikuti para pengusaha digital terbaik SVO. Hadiahnya berupa properti di Bangkok senilai sekitar Rp 3,09 miliar.

"Saya ke Bangkok untuk menerima properti pertama saya di luar negeri. Dan yang paling gila, saya tidak membelinya, saya memenangkannya," kata Berry, dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).

Berawal dari Pekanbaru

Di Pekanbaru, Berry merupakan salah satu pemilik cabang SVO Pekanbaru Graha Pena. Bersama para pemilik cabang lainnya, ia turut membangun dan mengembangkan komunitas yang kini menaungi lebih dari 400 pengusaha digital aktif.

Saat pertama kali terjun, Berry memandang bisnis semata sebagai cara untuk mendapatkan penghasilan. Namun seiring perjalanannya bersama SVO, cara pandang itu berubah. Ia mulai melihat wirausaha sebagai jalan untuk membuka kemungkinan yang lebih luas dalam hidup.

SVO merupakan platform AI commerce yang membangun ekosistem perdagangan digital bagi para Digital Entrepreneur dengan mengintegrasikan teknologi, produk, perangkat commerce, pengembangan bisnis, dan komunitas.

Tertinggal Empat Bulan, Lalu 'All In'

Jalan menuju Bangkok tidak mulus. Selama empat bulan pertama kompetisi, posisi puncak konsisten dipegang peserta lain. Berry mengaku saat itu belum terpikir untuk serius merebut posisi teratas.

Titik balik datang setelah ia mengikuti Champs Circle, lokakarya pengembangan bagi Digital Entrepreneur berkinerja terbaik SVO yang berfokus pada mindset juara, kepemimpinan, dan pembelajaran antar sesama peserta. Dari sana, ia mulai menimbang ulang seberapa jauh ia mau berjuang.

"Saya tidak suka kalah, apalagi kalau kalahnya karena tidak mencoba," ujar Berry.

Dengan sisa waktu dua bulan, Berry memutuskan untuk 'ALL IN'. Ia berhenti memikirkan peluang menang dan fokus mengerahkan segalanya untuk melihat sejauh mana ia bisa melangkah. Keputusan itu mengubah hasil akhir kompetisi.

"Kalau waktu itu saya menyerah, saya tidak akan berdiri di sini hari ini," tutur Berry.

Serah Terima di Bangkok

Kunci unit diserahkan oleh Goh Pei Yin selaku perwakilan Group Management Wellous. Turut hadir pengusaha sekaligus kreator konten bisnis Deryansha serta figur publik dan kreator konten digital Megi Irawan, yang mendampingi Berry melihat unit barunya.

Dalam kesempatan tersebut, keduanya juga berbincang langsung dengan Berry untuk menggali cerita di balik perjalanan, perjuangan, hingga pencapaiannya sebagai SVO World Champion 2026.

Berry datang ke Bangkok bersama sang istri, dan perjalanan ini bertepatan dengan momen anniversary mereka. Bagi Berry, kehadiran istrinya sangat berarti karena ia selalu ada di sisinya sepanjang perjalanan, terutama saat ia lelah atau ragu.

"Setiap kali saya capek atau mulai ragu sama diri sendiri, dia selalu ada, mendukung, dan percaya sama saya. Jadi kemenangan ini bukan cuma tentang saya. Ini tentang kami," ungkap Berry.

Berry menyebut menerima properti pertama di luar negeri bersama sang istri menjadi kenangan anniversary yang tak akan mereka lupakan.

Babak Baru dari Pekanbaru

Bagi Berry, serah terima di Bangkok ini lebih dari sekadar hadiah juara. Momen ini menandai babak baru dari perjalanan yang dimulai di Pekanbaru. Ke depan, ia menargetkan untuk terus mengembangkan bisnisnya, mencetak lebih banyak pemimpin di komunitasnya, serta membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk tumbuh bersamanya.

Kisah Berry mencerminkan fokus SVO dalam mendorong pertumbuhan wirausaha, ketangguhan, serta peluang yang dapat tercipta ketika bisnis digital dipadukan dengan usaha yang konsisten dan dukungan komunitas.

"Saya juga dulu sempat berpikir saya tidak bisa. Tapi saya memilih untuk tidak menyerah. Kalau saya bisa, kamu juga pasti bisa," pungkasnya.**


sumber: detikcom

KAMPAR (CNC) – Komite Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) memastikan kematian bayi perempuan berusia tiga bulan di Kabupaten Kampar, tidak disebabkan oleh pemberian imunisasi.

Kepastian tersebut diperoleh setelah Komnas KIPI melakukan kajian kausalitas terhadap kasus bayi yang meninggal dunia setelah menerima sejumlah vaksin pada Agustus 2026.

Ketua Komnas KIPI, Hindra Irawan Satari, mengatakan hasil pemeriksaan medis menunjukkan bayi mengalami infeksi paru-paru dan infeksi bakteri.

Bayi tersebut didiagnosis menderita pneumonia yang disertai sepsis.

“Berdasarkan hasil kajian kausalitas yang dilakukan, kejadian pada bayi perempuan dinyatakan inkonsisten, yaitu berkaitan dengan kondisi kesehatan lain di luar vaksinasi,” ujar Hindra, Rabu (7/10/2026), dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi dan hasil pemeriksaan yang tersedia, tidak ditemukan bukti bahwa vaksinasi menyebabkan kondisi yang dialami bayi tersebut.

Bayi Terima Empat Jenis Vaksin

Bayi tersebut sebelumnya menerima imunisasi pada 20 Agustus 2026 di Posyandu Melati, Bangkinang Kota, Kabupaten Kampar.

Dalam pelayanan tersebut, bayi mendapatkan empat jenis imunisasi, yakni DPT-Hb-Hib 2, PCV 1, OPV 3, dan Rotavirus 2.

Sekitar tujuh jam setelah imunisasi, bayi mengalami demam. Kondisinya kemudian memburuk dengan munculnya sesak napas dan kejang berulang.

Bayi kemudian dibawa untuk mendapatkan penanganan medis di RSUD Bangkinang.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kondisi serius. Bayi selanjutnya mendapatkan perawatan intensif dengan diagnosis pneumonia dan sepsis.

Namun, kondisi bayi terus memburuk meski telah mendapatkan penanganan medis.

Bayi tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada 22 Agustus 2026.

Kemenkes: Imunisasi Tetap Penting

Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, Indri Yogyaswari, menegaskan imunisasi tetap menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan kesehatan masyarakat.

Imunisasi memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Karena itu, masyarakat tetap diimbau mengikuti program imunisasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Sementara itu, hasil kajian Komnas KIPI dalam kasus bayi di Kampar menyatakan kejadian tersebut inkonsisten dengan vaksinasi dan berkaitan dengan kondisi kesehatan lain, yakni pneumonia serta sepsis akibat infeksi.**


sumber: kompascom


MEDAN (CNC) - Peserta Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan II melaksanakan kegiatan Studi Lapangan (Stula) ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran dalam Pelatihan Kepemimpinan Pengawas dengan tujuan untuk memperluas wawasan peserta mengenai penyelenggaraan pelayanan publik serta menggali berbagai praktik baik yang telah diterapkan oleh BBPOM di Medan. Kamis (08/10/2026). 

Kegiatan Studi Lapangan menjadi sarana bagi para peserta untuk belajar secara langsung melalui proses berbagi pengalaman, observasi, dan diskusi mengenai pengelolaan organisasi serta inovasi pelayanan publik. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru, tetapi juga mendapatkan inspirasi yang dapat diadaptasi dan diimplementasikan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik di lingkungan kerja masing-masing. 

Kegiatan diawali dengan keberangkatan peserta dari AIHO Hotel Medan pada pukul 07.30 WIB. Rombongan tiba di BBPOM di Medan pada pukul 08.00 WIB dan disambut dengan hangat oleh Kepala BBPOM di Medan, Bapak Mojaza Sirait, beserta jajaran.

Rangkaian kegiatan kemudian dibuka dengan sambutan dari Ibu Ira Yulita, selaku perwakilan Lembaga Administrasi Negara (LAN), Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Kinerja. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Bapak Mojaza Sirait selaku Kepala BBPOM di Medan.

Memasuki sesi utama, peserta mendapatkan pemaparan mengenai Profil Organisasi BBPOM di Medan yang disampaikan oleh Bapak Mojaza Sirait, dilanjutkan materi Layanan Publik di BBPOM di Medan oleh Bapak Jufri Sibarani, serta materi Inovasi Layanan Publik di BBPOM di Medan yang disampaikan oleh Bapak Sri Wardono.

Setelah seluruh materi pemaparan disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Peserta menggali berbagai informasi mengenai core issue atau isu strategis yang dihadapi BBPOM di Medan, termasuk bagaimana organisasi mengidentifikasi permasalahan, menentukan prioritas, serta menyusun langkah penyelesaian untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik.

Diskusi juga membahas mengenai indikator keberhasilan penyebaran informasi kepada masyarakat, termasuk bagaimana mengukur apakah informasi yang disampaikan telah menjangkau, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu, peserta menggali strategi BBPOM di Medan dalam memastikan inovasi pelayanan publik yang telah dikembangkan dapat terus berjalan, dievaluasi, dan memberikan dampak nyata sehingga tidak berhenti sebagai program sesaat atau menjadi inovasi yang terbengkalai.

Peserta memperoleh pemahaman bahwa keberlanjutan inovasi membutuhkan dukungan berbagai aspek, antara lain komitmen pimpinan, sumber daya manusia, monitoring dan evaluasi, pengukuran dampak, serta kemampuan organisasi untuk terus menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan masyarakat.

Setelah sesi pemaparan dan diskusi, peserta kemudian melakukan kunjungan lapangan ke ruang pelayanan BBPOM di Medan. Peserta melihat secara langsung proses pelayanan, fasilitas pendukung, serta berbagai upaya yang dilakukan untuk memberikan pelayanan yang efektif, transparan, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Kunjungan dilanjutkan dengan melihat fasilitas Laboratorium Pangan, Laboratorium Pengujian Obat Bahan Alam dan Suplemen Kesehatan, serta Laboratorium Pengujian Kosmetik. Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh gambaran secara langsung mengenai proses pengujian serta dukungan laboratorium dalam pelaksanaan tugas pengawasan obat dan makanan.

Kegiatan Studi Lapangan kemudian ditutup dengan foto bersama antara peserta PKP Angkatan II, perwakilan Lembaga Administrasi Negara, Kepala BBPOM di Medan beserta jajaran. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme.

Melalui kegiatan ini, peserta PKP Angkatan II diharapkan mampu membawa pulang berbagai praktik baik dan pembelajaran yang diperoleh untuk kemudian diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik unit kerja masing-masing, sehingga dapat mendorong terwujudnya pelayanan publik yang semakin efektif, inovatif, responsif, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat. **

PEKANBARU (CNC) – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Riau masih tinggi. Berdasarkan laporan yang diterima Dinas Kesehatan (Diskes) Riau, hingga saat ini total sudah ada 27.250 masyarakat Riau terpapar ISPA yang berasal dari 12 kabupaten/kota di Riau.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli, mengatakan dari jumlah tersebut Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan kasus tertinggi yaitu 7.434 kasus. Disusul Kabupaten Kampar 3.629 kasus, Bengkalis 2.964 kasus.

“Kemudian Kota Dumai 2.887 kasus, Siak 2.806 kasus, Pelalawan 2.555 kasus, Kuansing 1.297 kasus, Indragiri Hulu 1.235 kasus, Kepulauan Meranti 1.188 kasus, Rokan Hulu 908 kasus, Rokan Hilir 205 kasus dan Indragiri Hilir 79 kasus,” katanya, Kamis (7/10/2026).

Meski terjadi kenaikan kasus ISPA, Zulkifli mengklaim fasilitas kesehatan di daerah terdampak masih sanggup menampung dan melayani para pasien secara maksimal.

Guna menekan dampak buruk kasus ISPA, Diskes Riau terus menggalakkan pembagian masker gratis dan kampanye edukasi kesehatan ke masyarakat.

“Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas. Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team) di setiap Puskesmas telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak,” sebutnya. 

Diskes Riau juga mendirikan posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk penanganan kritis. Langkah darurat ini juga melibatkan akademisi perguruan tinggi serta organisasi profesi kesehatan untuk mendistribusikan masker kepada para pengguna jalan.

Kemudian juga, pihaknya mengimbau untuk meningkatkan deteksi dini dengan mendorong masyarakat yang mengalami gejala untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

"Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia," katanya.

Selain itu juga perlu tindakan memastikan ketersediaan masker dalam melindungi diri dari polusi udara, khususnya masker yang dapat menyaring polusi udara.

"Tenaga kesehatan kita di Faskes kita minta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota," tutupnya.**


sumber: MC Riau

DUMAI ( CNC) -  8 Oktober 2026, Inovasi pangan lokal berbasis olahan dari tanaman Sorgum, mulai dari brownies, keripik hingga biskuit sorgum berhasil mencuri perhatian masyarakat di Riau melalui gelaran Pertamina SMEXPO Pekanbaru yang berlangsung, pada 25-27 September 2026 di Living World Pekanbaru.

Ketiga produk tersebut dibawa oleh UMKM JELITA (Jajanan Enak, Lestari, Inovatif, Tinggi Asupan), Kelompok Wirani Rejosari mitra binaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai dari Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur. Produk inovasi pangan dari UMKM binaan Kilang Dumai itu tampil eksis dan ludes terjual di ajang pameran dan jejaring usaha UMKM binaan Pertamina dari berbagai sektor usaha, mulai dari Food & Beverage, Fashion & Wastra, Aksesoris, Craft & Jewelry, hingga Body & Beauty Care.

Ketua Kelompok Wirani Rejosari, Jummiati Suliasti menuturkan bahwa keikutsertaan Wirani Rejosari di SMEXPO Pekanbaru 2026 memberikan kesan yang luar biasa bagi dia dan anggota lainnya. Menurutnya SMEXPO Pekanbaru bukan sekadar ajang pameran atau bazar dan menjual produk, melainkan tempat belajar untuk lebih berani berjejaring menggali ipotensi kesepakatan bisnis sebesar yang lebih besar untuk kedepannya.

“Bagi kami, ini adalah tentang keberanian untuk melangkah, belajar, dan memperkenalkan mimpi kecil kami kepada lebih banyak orang.Ada rasa bangga dan haru ketika produk kami dihargai, apalagi ketika ada yang tertarik dan bertanya tentang perjuangan kami,” ujar Jummiati atau yang akrab disapa Yani.

Disisi lain, lanjut Yani, ada sedikit rasa sedih ketika masih banyak yang belum mengenal produk kami. Namun, disanalah proses bagi kami untuk lebih semangat dan belajar bahwa sebuah perjuangan tidak selalu langsung menghasilkan banyak penjualan.

“Kami yakin keberhasilan pertama adalah ketika orang mulai mengenal, mendengar, dan percaya pada cerita kita. Dan kami sudah berhasil melewati satu tahapan tadi. Kami percaya, suatu hari nanti mimpi besar kami akan menjadi nyata. Terima kasih kepada Pertamina dan seluruh pihak yang telah memberikan ruang kepada Wirani Rejosari untuk belajar dan bertumbuh,” kata Yani.

Dalam gelaran SMEXPO Pekanbaru, Kelompok Wirani Rejosari, mitra binaan Kilang Dumai, berhasil mencatatkan transaksi senilai Rp2.235.000. Transaksi tersebut berasal dari penjualan 60 toples biskuit, 20 bungkus keripik sorgum, dan 10 kotak brownies sorgum. Adapun biskuit dibanderol dengan harga Rp40.000 per toples, keripik sorgum seharga Rp25.000 per bungkus, sementara brownies sorgum dibanderol dengan harga Rp40.000 hingga Rp65.000 per kotak.

Area Manager Communications, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum mengatakan bahwa SMEXPO merupakan perhelatan tahunan Pertamina yang telah bagian dari komitmen melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk mendukung pertumbuhan UMKM dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Menurutnya, keikutsertaan UMKM JELITA dari Kelompok Wirani Rejosari dalam SMEXPO Pekanbaru merupakan bagian dari dukungan Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM binaan, sekaligus mendorong pelaku usaha agar semakin percaya diri dalam mengembangkan produknya.

“Keikutsertaan UMKM JELITA dalam SMEXPO menjadi salah satu bentuk dukungan kami untuk membuka ruang yang lebih luas bagi UMKM binaan agar dapat memperkenalkan produknya, memperluas pasar, sekaligus membangun jejaring dengan pelaku usaha dan konsumen. Kami berharap pengalaman ini dapat menjadi momentum bagi Kelompok Wirani Rejosari untuk terus berinovasi dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” ujar Muhammad Rum.

Ia menegaskan, sejak tahun 2020 Pertamina SMEXPO terus dikembangkan sebagai bagian dari pembinaan UMKM, mulai dari peningkatan kapasitas, digitalisasi, promosi, business matching, hingga perluasan akses pasar nasional dan internasional. Pada tahun ini, Pertamina SMEXPO Pekanbaru mengusung tema “Lokal Jadi Vokal”. Tema tersebut mencerminkan semangat untuk membawa produk-produk lokal agar semakin dikenal dan memiliki daya saing, dari pasar lokal menuju pasar nasional, bahkan hingga pasar internasional.

Acara penutupan SMEXPO Pekanbaru turut dihadiri oleh Walikota Pekanbaru Agung Nugroho, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru Hj. Yulianis, S.Sos., M.Si., serta Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Pekanbaru Dr. H. Idrus, S.Ag., M.Ag.

Lebih lanjut, ia berharap setelah pameran tersebut berakhir, hubungan yang telah terbangun antara UMKM dengan konsumen, buyer, maupun mitra dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat nyata.

“SMEXPO tidak berhenti pada transaksi selama pameran, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang mendorong UMKM untuk terhubung dengan pasar dan berkembang secara berkelanjutan. UMKM juga diharapkan dapat terus berinovasi, menjaga kualitas, memperkuat branding, memanfaatkan teknologi digital, dan berani membuka pasar yang lebih luas,” pungkas Muhammad Rum.**