ilustrasi

DUMAI - Salah seorang warga Dumai, Iwan Iswandi merasa kecewa dengan sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) atau lebih dikenal Tilang Elektronik, Kamis (6/8).

Kekecewaan itu bermula dari pesan yang didapatkannya terkait tilang elektronik pelanggaran lalu lintas dengan jenis pelanggaran TNKB Tidak Sah pada tanggal 5 Agustus 2026.

Sebelumnya, pada tanggal 3 Agustus 2026, ia juga mendapatkan pesan ETLE dengan pelanggaran yang sama, dan hal itu masih ia terima.

Namun, pesan ETLE tertanggal 5 Agustus 2028, Iwan menyangkal pelanggaran tersebut, ia menyatakan bahwa dirinya telah mengganti plat pada tanggal 4 Agustus 2026.

"Setelah dapat pesan tilang elektronik tanggal 3 itu, hari berikutnya sudah saya ganti agar tidak lagi dikenakan sanksi," ujar Iwan kepada awak media, Kamis (6/8).

Tapi, lanjut Iwan, tanggal 5 Agustus 2026 saya dapat pesan ETLE lagi dengan jenis pelanggaran yang sama.

"Tanggal 4 malam saya ganti plat bagian belakang dengan yang asli, sedangkan bagian depan diganti keesokannya (5 Agustus, red) sebelum berangkat mengantar anak," jelas Iwan sembari menunjukkan bukti CCTV.

"Tapi, masuk lagi pesan ETLE dengan jenis pelanggaran yang sama pada 5 Agustus 2026 pukul 17.56, lha, kok bisa? padahal saya sudah ganti, kan aneh," tambah Iwan.

Pihaknya tidak ingin menuding atau menuduh bahwa kejadian ini ada kejanggalan, ia berharap kejadian serupa tidak terulang pada warga lainnya.

"Kita tak mau menuduh ada kejanggalan, tapi berharap kejadian ini tak terulang untuk warga lainnya," pinta Iwan.

Selain itu, Iwan juga berharap, foto yang dilampirkan lengkap dengan informasi lokasi, jam serta yang lainnya.

"Sedangkan profesi wartawan saja, hasil fotonya memiliki informasi yang lengkap, mulai dari lokasi hingga pukul berapa foto diambil, kita minta di ETLE juga seperti itu, agar lebih transparan," tambah pria yang juga berprofesi sebagai wartawan itu.

Hingga berita ini diterbitkan, Humas Polres Kota Dumai yang sudah dimintai tanggapan melalui pesan whatsapp belum merespon kekecewaan sistem ETLE tersebut. 

Redaksi juga memberikan ruang pada pihak terkait untuk memberikan klarifikasi serta tanggapan demi keberimbangan informasi.(red)

JAKARTA -- Kepolisian Malaysia buka suara soal tiga perempuan asal Kinabalu, Sabah, ditangkap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, diduga berupaya menyelundupkan narkoba.

Direktur Satuan Kriminal Narkotika (Jabatan Siasatan Jenayah Narkotik/JSJN) Bukit Aman Hussein Omar Khan mengatakan polisi Malaysia sudah mendapat keterangan dari kepolisian Indonesia soal kasus itu.

"Kasus penangkapan ketiga perempuan ini juga ternyata tak ada hubungannya dengan kasus penangkapan pilot atau laki-laki berusia 22 tahun di Indonesia sebelumnya," kata Hussein ke radio milik Bernama, dikutip Harian Metro, Rabu (5/8).

Kasus penangkapan yang dimaksud adalah penangkapan pilot Malaysia Airlines Mohd Saufi bin Othman (MSO), di Bandara Soekarno Hatta, pada 28 Juli.

Dari hasil pemeriksaan, petugas bea cukai menemukan 14 kantong ekstasi yang berisi lebih dari 70.000 pil di dalam koper pilot, dan empat gram metamfetamin, yang diduga untuk penggunaan pribadi, di dalam tas tangan MSO.

Kemudian pada 3 Agustus, petugas di Bandara Juanda, Jawa Timur, menangkap warga asal Johor dengan inisial DI (22 tahun) karena kedapatan membawa 1.089 ekstasi.

Petugas juga menyita empat bungkus sabu-sabu dengan berat total 990 gram.

Kembali ke Hussein, dia mengatakan dua dari tiga perempuan itu memiliki catatan kriminal terkait narkoba dan merupakan pecandu. Dia juga menyebut jumlah narkoba yang disita pihak berwenang Indonesia relatif sedikit dan diyakini untuk penggunaan pribadi.

Dari hasil pemeriksaan terhadap tiga perempuan itu, petugas menemukan 0,5 gram abu diduga kokain, 0,3 gram abu diduga kokain, 2 gram bubuk diduga kokain, 4,2 gram pil diduga MDMA, 1,8 gram bubuk diduga ketamin, 2,4 gram pil diduga MDMA, dan 16,9 gram lintingan tembakau diduga bercampur dengan ketamin.

Selain itu, petugas juga mengamankan 1,4 gram serbuk putih diduga kokain, 1 pcs cartride diduga mengandung ketamin.

Di kesempatan ini, Hussein mengatakan serangkaian penangkapan warga Malaysia di Indonesia terkait narkoba karena posisi geografis negara ini yang menguntungkan sindikat narkoba internasional.

"Sindikat perdagangan narkoba ini sebagian besar beroperasi dari negara di utara Malaysia dan negara kita jadi transit sebelum narkoba dibawa ke Indonesia, Singapura, Filipina, serta beberapa negara lain," ujar dia,

Sehubungan dengan itu, Hussein menegaskan Malaysia akan memperketat lebih lanjut prosedur operasi standar yang ada di titik masuk dan keluar.

"Ini untuk memastikan Malaysia tak terus dicap negara transit narkoba," imbuh dia. **


sumber: CNN Indonesia

DUMAI – PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai (Kilang Pertamina Dumai) melalui bagian Health dan Emergency & Insurance fungsi HSSE kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga keandalan sistem tanggap darurat dengan menyelenggarakan Agility Test Firefighter, yang diikuti sebanyak 57 personel Firefighter (petugas pemadam kebakaran) wilayah operasi Kilang Dumai dan Kilang Sungai Pakning.

Kegiatan yang berlangsung pada 29–31 Juli 2026 di Lapangan Bapor, Komperta Bukit Datuk ini merupakan bagian dari indikator capaian Firefighter Fitness Improvement Program yang bertujuan memastikan setiap personel Firefighter memiliki tingkat kebugaran fisik, kelincahan, daya tahan, serta kesiapsiagaan yang sesuai dengan tuntutan operasional di lapangan.

Agility Test diselenggarakan sebagai bentuk evaluasi berkala terhadap kemampuan fisik personel Firefighter dalam menghadapi berbagai kondisi kedaruratan. Pengujian ini mengadopsi konsep pelatihan Firefighter yang digunakan oleh Singapore Civil Defence Force (SCDF) dan dikembangkan bersama FLAIRS/Eminence sehingga setiap tahapan pengujian merepresentasikan aktivitas nyata yang dihadapi petugas pemadam kebakaran ketika merespons keadaan darurat.

Selama pelaksanaan tes, peserta diwajibkan menyelesaikan serangkaian obstacle yang dirancang untuk menguji kemampuan fisik dan keterampilan operasional, meliputi Hose Drag (menarik selang pemadam), Stair Climb (naik dan turun tangga), SCBA Carry (membawa Self Contained Breathing Apparatus), Obstacle Course (melewati berbagai rintangan yang menguji kelincahan, koordinasi, dan keseimbangan), Casualty Rescue/Rescue Drag (evakuasi korban), hingga Sprint to Finish dalam batas waktu yang telah ditentukan. Seluruh rangkaian tersebut mensimulasikan kondisi kerja Firefighter di lapangan sehingga kemampuan peserta dapat dievaluasi secara menyeluruh.

Standar kelulusan ditetapkan dengan waktu penyelesaian maksimal 6 menit. Pada pelaksanaan tahun ini, waktu tercepat berhasil dicatatkan sebesar 3 menit 20 detik, sedangkan rata-rata waktu peserta yang lulus adalah 4 menit 40 detik. Hasil tersebut menunjukkan kesiapan fisik mayoritas personel Firefighter dalam menghadapi tuntutan tugas operasional.

Manajer HSSE PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Syahrial Okzani, menyampaikan bahwa Agility Test merupakan salah satu program strategis perusahaan dalam memastikan kesiapan personel tanggap darurat sekaligus memperkuat implementasi budaya Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).

"Keselamatan operasional diawali dengan kesiapan personel yang prima. Melalui Agility Test ini, kami ingin memastikan setiap Firefighter memiliki kemampuan fisik, ketangkasan, dan daya tahan yang sesuai dengan tuntutan tugas di lapangan. Program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat budaya HSSE sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan tim tanggap darurat untuk melindungi pekerja, aset perusahaan, dan lingkungan. Kami berharap evaluasi ini menjadi motivasi bagi seluruh personel untuk terus meningkatkan kemampuan dan menjaga kebugaran secara berkelanjutan,” ujar Syahrial.

Senada dengan hal tersebut, Section Head Health PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, dr. Hengki Ferdianto, menjelaskan bahwa aspek kebugaran menjadi salah satu faktor utama dalam mendukung keberhasilan operasi penyelamatan dan pemadaman kebakaran.

"Agility Test bukan hanya mengukur kecepatan menyelesaikan lintasan, tetapi juga mengevaluasi kapasitas fisik, daya tahan kardiovaskular, kekuatan otot, koordinasi, keseimbangan, serta kemampuan personel bekerja di bawah tekanan. Hasil evaluasi ini menjadi dasar bagi tim Health dalam menyusun program pembinaan kebugaran sehingga setiap Firefighter senantiasa berada dalam kondisi fisik yang optimal ketika menjalankan tugas,” jelas Hengki.

Pelaksanaan Agility Test berlangsung dengan aman, tertib, dan sesuai rencana. Selain menjadi indikator pencapaian program Firefighter Fitness Improvement Program, hasil evaluasi ini juga akan menjadi dasar penyusunan program pembinaan fisik yang lebih terarah bagi personel Firefighter sehingga peningkatan kompetensi dapat dilakukan secara berkesinambungan.**


DUMAI, 3 Agustus 2026 — PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai (Kilang Pertamina Dumai) kembali menunjukkan komitmen sosialnya kepada masyarakat sekitar wilayah operasional kilang dengan menggelar santunan anak yatim yang dilaksanakan pada Jumat 31 Juli 2026, bertempat di Masjid Ar-Rahman Main Office Kilang Dumai.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebelum melaksanakan Shalat Ashar berjamaah bersama seluruh pekerja dan manajemen Kilang Dumai. Santunan tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan Kilang Dumai melalui BAZMA, sebagai lembaga amil zakat di lingkungan Pertamina. Santunan diberikan kepada 10 anak yang berasal dari Kelurahan Tanjung Palas, Kelurahan Jaya Mukti dan wilayah sekitarnya secara bergantian dan berkala setiap periodenya.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum mengatakan santunan kepada anak yatim merupakan wujud kepedulian sosial perusahaan sekaligus ungkapan rasa syukur atas kelancaran operasional Kilang Dumai yang senantiasa didukung oleh masyarakat di sekitar wilayah operasi.

"Alhamdulillah, operasional Kilang Dumai hingga saat ini berjalan dengan normal dan dalam kondisi baik berkat dukungan dan doa masyarakat. Melalui komitmen ini, kami berharap santunan yang kami berikan dapat bermanfaat bagi anak-anak kita semua, serta dapat meringankan kebutuhan sekolah mereka sehari-hari,” ujar Muhammad Rum.

Selain memberikan santunan, sepulangnya dari kegiatan tersebut anak-anak juga dibekali dengan sagu hati berupa makanan untuk menambah keceriaan dan semangat mereka untuk belajar. Pada kesempatan kali ini, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai Iwan Kurniawan turut menyerahkan langsung santunan kepada anak-anak. Ia juga turut memberikan semangat langsung kepada anak-anak agar terus semangat dalam belajar dan meraih cita-cita.

Kegiatan santunan dan shalat ashar berjamaah ini juga dirangkaikan dengan doa bersama sebagai ikhtiar memohon doa agar kegiatan operasional Kilang Dumai serta unit operasi lainnya dapat berus berjalan lancar, aman, dan andal serta para pekerja senantiasa diberikan kesehatan dalam menjalankan kegiatan operasi secara optimal, dan berkontribusi dalam menopang ketahanan energi nasional bagi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai berkomitmen untuk terus hadir dan tumbuh bersama masyarakat serta menciptakan dampak berkelanjutan melalui berbagai inisiatif program yang bermanfaat. Kegiatan ini juga diharapkan dapat semakin mempererat hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi.**

PEKANBARU — Pemerintah Provinsi Riau melalui Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Riau resmi membuka pendaftaran Beasiswa Riau Cerdas Tahap Lanjutan Tahun Anggaran 2026 mulai 3 hingga 31 Agustus 2026. Pembukaan pendaftaran tersebut tertuang dalam Pengumuman Gubernur Riau Nomor: 400/5/SETDA/2026 sebagai komitmen pemerintah daerah dalam mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa berprestasi dan kurang mampu.

Pelaksana Tugas Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Yan Dharmadi, menyampaikan bahwa program ini diperuntukkan bagi mahasiswa penerima Beasiswa Riau Cerdas periode sebelumnya. Ia menegaskan seluruh pemohon wajib mengunggah berkas persyaratan secara daring melalui laman resmi https://sobatkesra.riau.go.id/ sesuai jadwal yang ditetapkan.

Kategori dan Ketentuan Indeks Prestasi Kumulatif

Program Beasiswa Riau Cerdas mencakup dua jenis utama, yakni Beasiswa Riau Prestasi untuk jalur akademik serta Beasiswa Riau Harapan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Kategori Beasiswa Prestasi meliputi jenjang S1/D4, S2, S3, program profesi atau spesialis, hingga jalur Tahfiz di berbagai perguruan tinggi mitra.

"Peserta harus melampirkan transkrip nilai dengan standar IPK minimal 3,10 untuk ilmu sosial dan 3,00 untuk ilmu eksakta pada jenjang S1 atau D4," ujar Yan Dharmadi di Pekanbaru, Selasa (4/8/2026).

Sementara itu, untuk program Magister (S2) disyaratkan IPK minimal 3,25, program Doktor (S3) sebesar 3,30, serta program Profesi atau Spesialis minimal 3,15. Pemohon juga wajib menyertakan surat permohonan yang ditujukan kepada Gubernur Riau, surat keterangan aktif kuliah asli, dan surat pernyataan tidak sedang menerima beasiswa lain bermaterai Rp10.000.

Mekanisme Pengumpulan Berkas dan Verifikasi Perguruan Tinggi

Pengumpulan proposal fisik bagi mahasiswa di dalam Provinsi Riau diserahkan langsung ke kampus masing-masing. Adapun bagi mahasiswa di luar Provinsi Riau berkas dapat dikirimkan secara kolektif oleh pihak kampus atau dikirim via pos ke Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Riau.

Proses seleksi penerimaan beasiswa dilaksanakan di perguruan tinggi masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil seleksi tersebut nantinya ditetapkan melalui Surat Keputusan Pimpinan Perguruan Tinggi untuk diserahkan kepada Gubernur Riau paling lambat minggu pertama September 2026.

"Pengiriman berkas proposal melalui pos dialamatkan kepada Tim Seleksi dan Verifikasi Beasiswa Riau Cerdas di Kantor Gubernur Riau paling lambat 31 Agustus 2026," pungkas Yan.

Adapun daftar Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan Tinggi Swasta, yang dapat mengajukan Beasiswa Riau Cerdas, yakni:

Dalam Provinsi Riau

Universitas Riau (UNRI)

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Riau

Universitas Islam Riau (UIR)

Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI)

Universitas Lancang Kuning (UNILAK)

Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Universitas Abdurrab

Politeknik Caltex Riau (PCR)

Politeknik Negeri Bengkalis


Luar Provinsi Riau

Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat

Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat

Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, Jawa Timur

Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur

Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) DKI Jakarta

Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ), Tangerang, Banten

Institut Pertanian Bogor (IPB)

Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Timur.


(MC Riau/mcy)

PEKANBARU - Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Gajah binaan di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, "Jovi" (46 tahun), dinyatakan mati pada Senin (3/8) pukul 20.47 WIB setelah tim dokter hewan Balai Besar KSDA Riau berjuang secara intensif memberikan perawatan medis selama 34 hari.

Gajah jantan dewasa yang telah berjasa besar membantu penanganan berbagai konflik manusia dan satwa liar di Provinsi Riau tersebut menghembuskan napas terakhir akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang memicu kelemahan otot berat (myopathy).

Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Ujang Holisudin, menjelaskan bahwa gejala sakit mulai terlihat pada 1 Juli 2026. Saat itu Gajah Jovi menunjukkan kondisi kelemahan umum, tidak nafsu makan, tremor (kejang), kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor, serta mengalami kesulitan untuk berdiri. 

"Sejak awal munculnya gejala, tim medis BBKSDA Riau segera melakukan penanganan secara intensif sesuai standar operasional dan prosedur (SOP) pelayanan kesehatan satwa. Tindakan medis yang diberikan meliputi terapi cairan infus selama 24 jam, pemberian vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta pemantauan kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium secara berkala," kata Ujang dalam rilis resmi Selasa (4/8/2026).

Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, menjelaskan bahwa selama masa perawatan kondisi Gajah Jovi sempat menunjukkan perkembangan. Kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor mulai berkurang, nafsu makan perlahan membaik, bahkan pada hari keenam perawatan gajah sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah.

"Hasil pemeriksaan laboratorium darah yang dilakukan secara berkala juga menunjukkan adanya penurunan tingkat infeksi setelah mendapatkan terapi," sebutnya.

Meskipun respons terhadap pengobatan sempat terlihat, kondisi otot Gajah Jovi terus mengalami penurunan hingga berkembang menjadi myopati berat, yaitu gangguan pada jaringan otot yang menyebabkan gajah kembali tidak mampu berdiri. Selama menjalani perawatan, kebutuhan nutrisi dan cairan terus dipenuhi melalui pemberian pakan khusus serta terapi infus intensif.

Dalam menangani kasus ini, BBKSDA Riau tidak bekerja sendiri. Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan mengoordinasikan diskusi dan konsultasi teknis bersama dokter hewan dari berbagai unit lingkup Kementerian Kehutanan guna memperoleh masukan dan pertimbangan medis terbaik dalam penanganan Gajah Jovi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium darah, serta gejala yang muncul selama masa perawatan, tim medis menduga Gajah Jovi mengalami komplikasi infeksi saluran pencernaan dan saluran pernapasan bagian atas yang berkembang hingga menyebabkan myopati berat. Untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah, setelah Gajah Jovi dinyatakan mati, tim medis segera melakukan nekropsi serta pengambilan sampel organ dan jaringan untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.

Pada Minggu, 2 Agustus 2026, kondisi Gajah Jovi mulai mengalami penurunan yang signifikan. Gajah tidak lagi mau makan maupun minum sehingga terapi intensif terus dilakukan. Pada Senin, 3 Agustus 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, suhu tubuh meningkat hingga mencapai sekitar 40°C. Tim medis terus memberikan terapi cairan melalui infus, pemberian cairan secara oral maupun rektal, serta tindakan suportif lainnya.

Namun, pada pukul 20.43 WIB Gajah Jovi mengalami tremor hebat, dan pada pukul 20.47 WIB dinyatakan mati. Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan, jenazah Gajah Jovi dimakamkan sesuai prosedur yang berlaku.

Gajah Jovi merupakan gajah jinak jantan berusia sekitar 46 tahun yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu dan bergabung di PLG Minas sejak 18 Februari 1998. Selama lebih dari dua dekade, Jovi menjadi salah satu gajah binaan yang berperan penting dalam berbagai operasi mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di berbagai wilayah Provinsi Riau. Kontribusinya dalam mendukung upaya konservasi gajah Sumatera menjadi bagian penting dari sejarah pengelolaan konflik satwa liar di Riau.

BBKSDA Riau menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang telah bekerja tanpa mengenal waktu selama proses perawatan Gajah Jovi. 

BBKSDA Riau juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian gajah Sumatera yang saat ini masih menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya. Upaya konservasi hanya dapat berhasil melalui kolaborasi seluruh pihak dalam menjaga habitat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, serta mendukung berbagai program perlindungan dan penyelamatan gajah di Indonesia.**